siapa bilang wajah-wajah unyu saya tidak bisa mejeng di halaman orang-orang?
(anggap saja saya sedang dibajak)
Monkey Majik - Tada Arigatou
Dua sejoli, ah bukan, dua orang teman. Mungkin tidak tepat dibilang seperti itu juga karena mereka sudah tidak kelihatan berkawan lagi. Lantas bagaimana? Sebuah ironi persahabatan.
Mereka berdua harusnya saling menyapa. Harusnya, tetapi seperti yang barusan dituliskan tadi, garis persahabatan mereka kian tidak kelihatan. Sungguh melebihkan tetapi ini hanya sebuah pandangan.
Di suatu malam mata ini melihat mereka berdua. Sekali lagi perasaan hati mengatakan mereka tidak akan saling menyapa. Hanya kelihatan dari jauh saja. Begitu lama mereka kelihatan dan akan selalu sama. Tidak akan ada yang yang disapa begitu pula yang menyapa.
Katakan saja dunia ini tidak nyata hanya sebatas dunia yang maya dimana kita juga tidak perlu saling memandang satu sama lainnya. Dimana kita tidak harus menunjukkan ekspresi malu saat harus mengatakan sesuatu. Dunia tempat kita hanya tinggal menuliskan isi hati ke orang yang yang kita tuju. Dunia yang kaku tetapi perasaan hati tetap mengira mereka tidak akan menyapa satu sama lainnya.
Apa gunanya kita berjalan selama ini hingga kemudian bisa menjalin sebuah persahabatan? Kemana perginya bayangan-bayangan teman yang seharusnya ada di samping? Kemana perginya sebuah rencana yang tidak matang itu ketika berkumpul bersama kemarin?
Katakanlah mereka tidak akan saling menyapa lagi, saya di sini akan tetap hidup. Tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan di sana. Tidak peduli dengan sesuatu yang baru menimpa mereka. Hanya saja akan selalu terlihat berbeda. Tidak lagi indah. Itu saja.
Pada akhirnya, fantasi seolah-olah menyelamatkanmu. Yang kau pikirkan hanya sebuah ruang. Tidak pula mengenal sebuah pintu untuk memasukinya. Di dalam sana kau pun berkutat dengan waktu, seolah bergelut satu sama lainnya hingga nanti menemukan pemenang sejati.
Ah, kalau nanti rasa sadarmu belum juga muncul, lilin kecil yang menyala ini dipastikan melayang ke wajah kusammu.
Berobatlah. Sebentar lagi kita kehabisan waktu.
Jangan lihat ke belakang saat membaca ini.
OST Cyborg SHE
Hi-Fi Camp - Kizuna
Terbangun padahal seharusnya dapat segera tidur. Hanya beberapa jam saja setelahnya satu dosa terangkai sudah. Harusnya dapat dihindari tetapi terlalu polos untuk ditinggali. Ah, nikmatnya dosa. Ini semua salahmu insomnia.
Bukankah akan lebih bagus kalau kita tidak membutuhkan tidur? Akan lebih banyak dosa-dosa yang dapat dirangkai. Bukankah lebih baik kalau ada penghargaan untuk dosa? Ah, seharusnya kau tidak ada. Ini semua salahmu insomnia.
Kemudian akan terus terjadi. Terus terjadi sampai rasa bersalah membuatmu tertidur pulas. Melakukan lagi dan lagi hingga tiada artinya lagi tiap doa malammu. Hanya karena terbangun, ya, ini semua salahmu insomnia.
Tidak akan ada tuan malam yang baik hati. Hanya dosa yang akan senantiasa sebagai pengantar tidur. Kalau nanti terbangun ingatlah selalu namanya. Karenanya ini memang salahmu insomnia.
Lagi dan lagi sampai tubuh terus mengejang tidak karuan. Sama seperti malam sebelumnya hingga lupa bagaimana caranya harus tidur. Tanpa panggilan nyata terbangun seakan hari ini harus melakukan dosa. Kemudian dan seterusnya akan melakukannya lagi. Katakan, ini semua salahmu insomnia.
Lelah dosa justru menghantarkan tidur. Insomnia.
12.55
Kamen Rider Race
Cut scene from “Kamen Rider Decade Net Movie”
Kami telah siap!
Kami siap selayaknya gerombolan tentara yang siap tegak berbaris dengan pandangan ke depan tanpa harus memperdulikan barisan di samping kanan dan kirinya. Kami telah menyelesaikan satu misi dan selayaknya dapat berpuas diri karena telah berhasil melewatinya. Kami peduli akan apa yang kami kerjakan sehingga tidak ada kata mundur ketika semuanya telah berjalan. Ya, kami sungguh sangat ingin memenangkan hati mereka yang di sana.
Sungguh ini sebuah pengalaman. Bukan yang pertama memang, tetapi ini kali pertama yang sedikit berbeda. Kami bukan orang-orang yang sepemikir, bukan pula orang-orang yang sedikit banyak lebih tahu situasi yang kami hadapi. Setidaknya ada pembelajaran. Ada proses hingga kau mendapatkan satu pelajaran.
Malam yang kian berat akhirnya berlalu. Ini hanya masalah waktu. Ya, bagaimanapun nanti hasilnya akan selalu ada ucapan syukur. Karenanya ya, kami telah siap!
Kami telah siap! Sebuah penantian bulan Maret. Masa-masa berat berikutnya akan ada selalu di depan mata. Tinggal menghadapinya saja sebagai bukti kesiapan kami tadi.
Maret, rasanya begitu panas. Begitu singkat sama seperti namanya. Ya, meskipun tidak sesingkat Mei yang rasa-rasanya tidak begitu spesial dibanding bulan ini. Sepertinya tidak ada salahnya menuliskan seperti itu.
Maret, kami menanti. Melihat kalender tahunan sendiri, jelas sudah bulan ini dipenuhi oleh berbagai macam kegiatan. Ada-ada saja yang tertulis di sana. Rasanya bulan ini memang pantas dijuluki bulan yang panas. Baiklah selalu dijadikan pelajaran berikutnya. Hingga nanti pun akan selalu menjadi pelajaran.
Maret, kami telah siap!
Kami akan berbaris!
Bandung, 1 Maret 2012
“Jadi, satu, dua, tiga, berarti selanjutnya akan menjadi yang keempat ya. Bukan, besok akan menjadi yang ketiga. Tidak terasa kemarin saya duduk menunggu empat jam kekhawatiran yang mungkin rasa-rasanya sudah tidak berarti lagi untuk diceritakan. Ah, sudahlah, percuma memang tangisan kemarin. Rasa-rasanya pun hidup ini tahu betul kapan harus berakhir sama seperti tahu kapan pula harus memulai.”
Ini bukan selalu tentang hidup. Siapalah yang memegang peranan hidup di atas bumi yang kelihatan tak bernyawa ini. Ah iya, Tuhan. Begitu mereka menyebutnya. Katanya segala sesuatunya akan kelihatan manjur begitu mereka berkali-kali menyebut sebutan tadi. Tetapi kemarin itu saya hanya melihatmu terduduk. Ya, sesekali menangis, ya, hanya sekali bahkan setelah itu semua hilang begitu saja. Begitu sombongnya kau sembunyikan pilu hati yang rasa-rasanya tidak pernah lagi kau sembari dengan doa. Entah kemana dirimu yang telah lama dikenal itu.
“Jadi besok yang ketiga. Sudahkah saya berdoa malam ini?”
“Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini sama seperti hari-hari yang membosankan. Hanya saja hari ini saya teringat lagi. Bahkan harus diingatkan kembali. Ah, iya besok yang ketiga. Jujur saya sedih karena tidak sempat bertanya bagaimana keadaanmu saat melewati yang kedua kemarin. Bagaimana rasanya yang kedua kemarin?”
“Hei lihat, apa ada yang aneh dengan fisikmu saat ini? Ah, setidaknya pertanyaan itu disimpan dahulu setelah yang ketiga ini. Hei, besok jangan lupa bertemu dengan dokter itu.”
Hari ini hingga sekarang saya melihatmu hanya terdiam. Tidak berbicara denganNya sepatah katapun. Rasanya hatimu sudah membatu oleh karena keinginanmu yang tidak terwujudkan itu. Tetapi harapannya pun selalu agar kau tetap masih peduli. Begitulah harusnya sesuatu yang berakar yang saling memerlukan di dalam batin. Saya rasa pun deritamu di sini bisa dirasakan olehnya di sana. Bahkan dia berbicara kepadaNya hanya untuk tahu bagaimana keadaanmu. Ironis memang kalau dia pun harus lupa dengan kondisinya sendiri.
“Iya, jadi besok yang ketiga ya. Kuatlah. Sama seperti saat menghadapi kemoterapi yang pertama. Betapa polosnya wajahmu.”
Bandung, 20.02.12